BERANDAPOST.COM, WASHINGTON – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) belum sepenuhnya mereda. Dari gencatan senjata sementara, perbedaan pandangan kedua negara justru kembali mencuat dan memperlihatkan rapuhnya upaya damai.
Melansir Sindo News, Kamis (9/4/2026), Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara tegas menilai negosiasi dengan Amerika Serikat tidak masuk akal. Ia menuduh Washington melanggar sejumlah syarat penting Teheran telah ajukan.
Beberapa pelanggaran yang paling menjadi sorotan antara lain dugaan intrusi drone ke wilayah udara Iran, sikap terhadap gencatan senjata Lebanon, hingga penolakan hak Iran dalam pengayaan uranium.
Pada sisi lain, Wakil Presiden AS, J.D. Vance, justru menyebut terjadi kebingungan terkait proposal Iran. Ia mengaku menemukan tiga versi tuntutan berbeda yang beredar.
Ia bahkan mengaggap salah satu versi tidak serius. “Draf pertama mungkin ditulis oleh ChatGPT, dan langsung dibuang,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan betapa renggangnya komunikasi kedua pihak. Bahkan, versi proposal yang beredar dalam media Iran disebut berbeda dengan yang Washington telah terima.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya sempat menyatakan optimisme. Ia menyebut salah satu proposal Iran cukup layak menjadi dasar negosiasi.
Kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu pun tercapai, dengan harapan membuka jalan menuju perjanjian damai. Namun situasi lapangan berkata lain.
Serangan besar terhadap Beirut terjadi dan menewaskan ratusan warga sipil. Iran mengecam keras dan mengancam akan membalas. Ketegangan kembali meningkat, bahkan sebelum benar-benar memulai perundingan.
Sementara itu, perbedaan kepentingan tetap menjadi batu sandungan utama. Iran bersikeras mempertahankan hak pengayaan uranium, sedangkan AS menuntut penghentian total program tersebut.
Melansir CNN yang mengutip Al-Jazeera, Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Washington tidak akan menerima tuntutan sepihak dari Iran.
“Presiden hanya akan membuat kesepakatan yang menguntungkan kepentingan Amerika,” ujarnya.
Dalam situasi tarik-menarik kepentingan ini, gencatan senjata yang menjadi kesepakatan justru terlihat seperti jeda singkat alias bukan solusi jangka panjang. (bro2)

