BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Sekretariat Tim Produksi Film Dayak Kalimantan kedatangan Agustinus Jilah atau Panglima Jilah. Tim produksi terus mematangkan film kolosal bertema “Dayak” yang mengusung misi pelestarian budaya dan sejarah leluhur.
Eksekutif Produser Agustinus Jilah atau Panglima Jilah menegaskan pentingnya persatuan masyarakat Dayak melalui karya film ini.
“Dayak itu harus tetap eksis dan tidak boleh terkotak-kotak. Kita harus bersatu,” kata Panglima Jilah.
Ia menjelaskan film ini akan mengangkat cerita rakyat berlatar masa kerajaan, yang menampilkan identitas adat, budaya, serta kehidupan sosial masyarakat Suku Dayak.
Produksi film kolosal ini, lanjut Panglima Jilah, membutuhkan dukungan luas dari berbagai pihak.
“Film ini butuh kerja sama yang baik dan dana yang besar. Kami akan melibatkan masyarakat Dayak, termasuk artis yang memiliki darah Dayak,” katanya.
Selain itu, tim produksi juga akan berkoordinasi dengan tokoh-tokoh Dayak guna memastikan akurasi budaya yang akan tergambarkan dalam film nantinya.
“Film ini bukan untuk kepentingan pribadi, tapi juga untuk mengangkat nama suku Dayak,” tegas Panglima Jilah.
Edukasi dan Pelestarian Sejarah

Film kolosal “Dayak” melibatkan masyarakat Dayak dan dengam target penyelesaian satu tahun. (Berandapost.com)
Sementara itu, Penanggung Jawab Produksi yang juga Panglima KOPPAD Borneo, Abriantinus menyebut film ini memiliki nilai edukasi dan pelestarian sejarah.
“Kami membuat film ini karena sejarah peradaban Dayak selama ini banyak berupa sastra lisan. Ini menjadi upaya dokumentasi visual,” ujarnya.
Saat ini, proses masih berada pada tahap audisi yang berlangsung hingga 1 Juni 2026. Setelah itu, produksi akan memasuki tahap syuting hingga pascaproduksi.
“Kami targetkan dalam waktu satu tahun film ini sudah selesai dan siap tayang,” tambahnya.
Selain itu, film kolosal Dayak akan menjadi tonggak penting dalam memperkenalkan budaya dan sejarah Dayak ke tingkat nasional maupun internasional. (bro2)

