BERANDAPOST.COM, SAMARINDA – Isu ketenagakerjaan perempuan kembali mengemuka dalam momentum Hari Buruh Sedunia 2026. Perempuan Mahardhika Samarinda menyoroti kondisi pekerja perempuan yang masih menghadapi ketidakpastian kerja, diskriminasi, dan kekerasan dalam tempat kerja.
Dalam pernyataan sikapnya, Jumat (1/5/2026), Perempuan Mahardhika menilai situasi ketenagakerjaan saat ini belum sepenuhnya berpihak pada perempuan. Tingginya angka pengangguran dan terbatasnya lapangan kerja formal memaksa banyak perempuan menerima pekerjaan dengan upah rendah, kontrak tidak pasti, serta minim perlindungan sosial.
Selain itu, proses rekrutmen masih sarat diskriminasi. Perempuan kerap menghadapi persyaratan yang berkaitan dengan usia, status perkawinan, hingga rencana memiliki anak. Kondisi ini, menurut mereka, mempersempit akses kelompok rentan terhadap pekerjaan formal.
Perempuan Mahardhika juga menyoroti praktik kerja yang eksploitatif dan tidak inklusif. Mereka menilai perempuan masih sering diposisikan sebagai tenaga kerja dengan upah lebih rendah dan perlindungan yang lemah.
Pada sisi lain, organisasi tersebut menyinggung pendekatan keamanan dalam tata kelola negara yang berpotensi mempersempit ruang demokrasi, termasuk kebebasan berserikat dan menyampaikan aspirasi.
Mereka juga menyoroti masih maraknya kekerasan dalam dunia kerja, seperti pelecehan seksual, kekerasan verbal, ancaman pemutusan hubungan kerja saat hamil, hingga pemotongan upah sepihak. Kondisi ini membuat banyak pekerja perempuan memilih diam karena khawatir kehilangan pekerjaan.
Tuntutan Perempuan Mahardhika Samarinda
Atas situasi tersebut, Perempuan Mahardhika Samarinda menyampaikan sejumlah tuntutan. Antara lain mendorong pemerintah menghadirkan kerja layak bagi perempuan, memastikan ketersediaan lapangan kerja yang aman dan berupah layak, serta memiliki jaminan sosial dan kepastian status kerja.
Mereka juga mendesak pemerintah memenuhi janji penciptaan lapangan kerja yang berkualitas, bukan sekadar pekerjaan informal tanpa perlindungan.
Selain itu, organisasi ini meminta penghapusan praktik rekrutmen yang diskriminatif serta menekankan pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan.
Dalam pernyataannya, mereka juga menolak segala bentuk represi terhadap gerakan masyarakat dan menekankan pentingnya demokrasi yang sehat sebagai ruang perjuangan hak pekerja.
Perempuan Mahardhika juga mendesak penghapusan kekerasan dalam dunia kerja melalui mekanisme pencegahan, pelaporan, perlindungan korban, serta penegakan hukum yang tegas. (bro2)

