BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Otoritas Bandara VII melakukan rapat koordinasi terkait perkembangan operasional angkutan udara dalam wilayah kerjanya pascaimplementasi kebijakan baru tarif penerbangan.
Kepala Otoritas Bandara VII, Ferdinan Nurdin menjelaskan, evaluasi setelah penerapan KM 83 Tahun 2026 tentang fuel surcharge dan PMK 24 Tahun 2026 terkait pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP).
Dari hasil rapat, perwakilan Bandara SAMS Sepinggan melaporkan penurunan jumlah penumpang sekitar 15 persen ketimbang 2025.
“Rata-rata penumpang harian turun dari sekitar 13.000 menjadi 11.000 hingga 12.000 orang, meskipun belum ada pembatalan penerbangan,” ungkapnya dalam keterangan resmi, Minggu (3/5/2026).
Meski terjadi penurunan, performa rute utama masih tergolong kuat. Lion Group melaporkan tingkat keterisian (load factor) mencapai 80 persen, bahkan menyentuh 100 persen pada waktu tertentu.
“Terutama rute Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Tarakan,” sebutnya.
Namun, penyesuaian operasional mulai terjadi pada sejumlah maskapai. AirAsia berencana membatalkan beberapa rute seperti Surabaya-Balikpapan0Tarakan dan Surabaya-Balikpapan-Berau pada Mei hingga Juni 2026.
Dalam wilayah lain, kondisi serupa juga terjadi. Palangka Raya mencatat pembatalan tiga rute, sementara Sampit dan Muara Teweh mengalami penurunan load factor hingga 25 persen yang berdampak pada penghentian sejumlah penerbangan sejak akhir Maret 2026.
Sedangkan Berau, tingkat keterisian Wings Air sekitar 50 persen, selanjutnya Batik Air dan Sriwijaya Air mencapai 70 persen.
“AirAsia mencatat load factor lebih dari 85 persen,” ujarnya.
Frekuensi Penerbangan Bandara APT Pranoto Turun
Sementara itu, Bandara APT Pranoto Samarinda tidak terdapat pembatalan, namun terjadi pengurangan frekuensi penerbangan. Sementara pada sisi lain, Wings Air mulai membuka rute baru ke Melak.
Perkembangan positif justru terlihat pada Bandara Juwata Tarakan. Tingkat keterisian penumpang mencapai 100 persen pada periode puncak Februari hingga April 2026.
Selain itu, rute internasional kargo Filipina-Tarakan-Hong Kong oleh My Indo telah beroperasi sejak 9 April 2026. Bahkan untuk maskapao AirAsia dan Susi Air menyiapkan rencana pengembangan rute penumpang Tarakan-Tawau.
Secara umum, Ferdinan menilai operasional penerbangan dalam wilayah kerja Otoritas Bandara VII masih berjalan baik, terutama pada rute-rute utama.
“Penyesuaian terjadi untuk beberapa wilayah dengan permintaan lebih rendah, namun peluang pengembangan rute baru tetap terbuka,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara regulator, operator bandara, maskapai, dan pemerintah daerah untuk menjaga konektivitas penerbangan.
“Kolaborasi ini penting agar pelayanan tetap optimal dan pengembangan rute dapat mendorong pertumbuhan ekonomi serta mobilitas masyarakat,” pungkasnya.
Hadir dalam rapat tersebut Kepala Seksi KAUK Abdul Faqih, inspektur angkutan udara, perwakilan PT Angkasa Pura Indonesia, pengelola bandara, serta sejumlah maskapai seperti Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air Group, AirAsia, Sriwijaya Air, NAM Air, dan Susi Air.

