BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Harapan warga Balikpapan untuk terbebas dari banjir pada kawasan Daerah Aliran Sungai atau DAS Ampal masih menghadapi tantangan besar. Saat Pemerintah Kota Balikpapan berupaya mempercepat pembangunan kolam retensi, sengketa kepemilikan lahan justru menjadi penghambat utama. Membuat progres proyek baru mencapai sekitar 12 persen.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menegaskan sengketa lahan harus segera selesai agar proyek dapat kembali berjalan sesuai target.
“Kalau ini tidak selesai, berarti penanganan banjir DAS Ampal pun akan menjadi masalah,” kata Bagus beberapa waktu lalu.
Bagus menjelaskan kolam retensi untuk menampung air hujan sementara sebelum mengalirkannya ke saluran utama. Sistem tersebut bertujuan mengurangi lonjakan debit air karena kapasitas saluran DAS Ampal memiliki batas tampung.
Ia juga mengungkapkan, Pemerintah Kota Balikpapan sebelumnya telah mengalokasikan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp6 miliar untuk mendukung pekerjaan awal melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Tahapan tersebut telah selesai tanpa kendala.
“Tetapi giliran BWS mengerjakan, ternyata ada pihak yang mengklaim tanah tersebut,” ungkapnya.
Menurut Bagus, sebenarnya pembebasan lahan yang menjadi objek sengketa telah selesai. Untuk itu, ia menegaskan kepada pihak yang merasa memiliki hak agar menempuh jalur hukum atau berkoordinasi dengan pemerintah melalui lurah maupun camat.
“Kalau memang merasa ada yang dirugikan, ya silakan menggugat,” tegasnya.
Ia juga mengimbau seluruh pihak yang saling mengklaim kepemilikan lahan untuk mengedepankan musyawarah agar persoalan tidak berlarut-larut.
“Silakan yang saling mengklaim itu berkoordinasi saja, berdiskusi saja, mencari solusi, jangan mencari masalah,” tekannya.
Selain infrastruktur pengendalian banjir, kawasan kolam retensi juga akan menjadi ruang terbuka hijau (RTH). Nantinya masyarakat bisa memanfaatkan untuk berolahraga dan berekreasi.
“Nanti ada ruang terbuka hijau, orang bisa memancing, orang bisa berwisata, jogging,” pungkasnya.
Kolam retensi tersebut juga akan memiliki pintu air dan turap berukuran lebih besar dengan penataan yang lebih baik ketimbang Waduk Wonorejo. (bro2)

