INTERNASIONAL
Beranda / TOPIK / INTERNASIONAL / Alasan Rusia-China Tidak Beri Dukungan Militer ketika Iran Diserang

Alasan Rusia-China Tidak Beri Dukungan Militer ketika Iran Diserang

Rusia dan China mengecam serangan AS dan Israel ke Iran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, namun belum menunjukkan rencana intervensi militer. (Ilustrasi/OpenAI)

BERANDAPOST.COM, JAKARTA – Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menewaskan lebih dari 1.000 orang. Dua sekutu diplomatik utama Teheran, Rusia dan China, langsung menyampaikan kecaman keras.

Melansir CNBC Indonesia, Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahkan secara terbuka mengecam kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada Sabtu (28/2/2026).

Putin menyebut pembunuhan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap norma kemanusiaan.

“Pembunuhan itu merupakan pelanggaran sinis terhadap semua norma moral manusia,” ujarnya.

Pemerintah China juga menyampaikan kritik keras terhadap eskalasi konflik tersebut. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan penggunaan kekuatan militer tidak akan menyelesaikan konflik.

Ratusan Warga Asing dari Iran Mengungsi ke Azerbaijan

Pernyataan itu disampaikan dalam komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar.

“Penggunaan kekuatan tidak benar-benar dapat menyelesaikan masalah,” kata Wang Yi sambil mendesak semua pihak menahan diri.

Sebagai langkah diplomatik, Rusia dan China juga meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa guna membahas situasi tersebut.

Hubungan Iran dengan Rusia dan China

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Iran dengan Rusia dan China semakin erat.

Moskow dan Teheran menandatangani kemitraan strategis komprehensif pada Januari 2025 yang mencakup kerja sama perdagangan, militer, hingga ilmu pengetahuan.

Tiga Jet F-15 AS Jatuh karena Tembakan Salah Sasaran

Kerja sama tersebut juga meliputi proyek infrastruktur besar, termasuk koridor transportasi yang menghubungkan Rusia dengan kawasan Teluk melalui Iran.

Bahkan pada akhir Februari lalu, kedua negara masih melaksanakan latihan militer bersama di Samudra Hindia.

Namun kesepakatan tersebut tidak memuat klausul pertahanan bersama, sehingga Rusia tidak memiliki kewajiban hukum untuk memberikan bantuan militer langsung.

Rusia Enggan Terlibat Militer

Pakar hubungan internasional Rusia, Andrey Kortunov, menjelaskan bahwa perjanjian Rusia dengan Iran jauh lebih longgar daripada kesepakatan pertahanan Rusia dengan Korea Utara pada 2024.

Menurutnya, perjanjian dengan Pyongyang mewajibkan Rusia membantu secara militer jika terjadi konflik.

Serangan Drone Picu Qatar Hentikan LNG, Saudi Tutup Kilang Aramco

Sebaliknya, kesepakatan dengan Iran hanya menekankan komitmen untuk menghindari tindakan bermusuhan ketika salah satu pihak menghadapi konflik.

Kortunov menilai peluang intervensi militer Rusia dalam konflik Iran sangat kecil karena risiko yang terlalu besar.

Selain itu, Moskow juga tengah memprioritaskan upaya diplomatik terkait konflik Rusia–Ukraina.

China Fokus Diplomasi

China juga memiliki hubungan ekonomi kuat dengan Iran, terutama dalam sektor energi.

Pada 2021, kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama 25 tahun yang memasukkan Iran ke dalam proyek Belt and Road Initiative.

Peneliti keamanan internasional dari Tsinghua University, Jodie Wen, menilai hubungan Beijing–Teheran bersifat pragmatis.

Ia menegaskan China tetap menjaga batas jelas terkait keterlibatan militer.

“Pemerintah China selalu berpegang pada prinsip tidak mencampuri urusan negara lain. Saya tidak berpikir China akan mengirimkan senjata ke Iran,” ujarnya.

Menurut para analis, Beijing kemungkinan akan memfokuskan perannya pada diplomasi dan upaya menurunkan ketegangan kawasan.

China juga memiliki kepentingan ekonomi besar dalam kawasan Timur Tengah sehingga stabilitas kawasan menjadi faktor penting bagi kepentingan strategisnya. (bro2)