BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Produksi film kolosal berjudul “Dayak” mulai memasuki tahap penjaringan pemeran atau artis melalui audisi terbuka yang akan berlangsung di berbagai wilayah Kalimantan.
Ketua II panitia, Lawadi Nusah, menyebut proyek film ini dirancang sebagai kolaborasi lintas negara.
“Produksi film ini akan melibatkan tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam,” ujarnya.
Film ini akan menjadi medium untuk memperkenalkan identitas Dayak secara utuh, baik dari sisi sejarah maupun budaya kepada masyarakat luas.
Jadwal dan Lokasi Audisi
Adapun pendaftaran casting atau audisi film Dayak mulai 1 April hingga 1 Juni 2026. Sedangkan pelaksanaan audisi berlangsung pada 3 Juni hingga 8 Agustus 2026, meliputi:
1. Kalimantan Timur:
- Samarinda (4-6 Juni)
- Balikpapan (11-13 Juni)
2. Kalimantan Utara:
- Tanjung Selor (18-20 Juni)
- Tarakan (25-27 Juni)
3. Kalimantan Selatan:
- Banjarbaru (2-4 Juli)
- Tanah Bumbu (9-11 Juli)
4. Kalimantan Tengah:
- Palangka Raya (16-18 Juli)
- Pangkalan Bun (23-25 Juli)
5. Kalimantan Barat:
- Pontianak (30 Juli-1 Agustus)
- Singkawang (6-8 Agustus)
Peserta audisi agar mengisi formulir daring atau online melalui https://forms.gle/JBtsgAKqCcc3adiEA.
Syarat Peserta
Audisi terbuka bagi masyarakat umum dengan ketentuan:
- Warga Negara Indonesia
- Pria dan wanita
- Usia 10 s/d 50 tahun
- Tidak terikat kontrak dengan rumah produksi lain
Angkat Keberagaman Suku Dayak
Ketua Tim Produksi, Thoesang TT Asang, bahkan menjelaskan film ini akan mengangkat beragam sub-suku Dayak dari berbagai wilayah.
Mulai dari Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat, Ngaju dan Ma’anyan di Kalimantan Tengah, Bakumpai di Kalimantan Selatan, hingga Kenyah di Kalimantan Timur.
Dalam film, penggunaan bahasa daerah akan berpadu dengan Bahasa Indonesia agar penonton mudah memahami alur cerita.
“Kami juga tetap menggunakan bahasa Indonesia saat antarsuku bertemu, dan akan disertai subtitle,” jelasnya.
Angkat Sejarah dan Perdamaian Dayak
Penanggung jawab produksi, Abriantinus, menambahkan film ini juga akan mengangkat sejarah besar peradaban Dayak. Salah satunya adalah Perjanjian Tumbang Anoi, yang menjadi simbol persatuan setelah konflik antarsuku.
Selain itu, film ini juga akan menampilkan sejarah kerajaan seperti Nan Sarunai hingga keterkaitannya dengan wilayah Kesultanan Banjar dan Paser.
Dorong Riset dan Pelestarian Budaya
Melalui film ini, tim produksi berharap dapat mendorong minat penelitian terhadap suku Dayak, sekaligus agar memperkuat pelestarian budaya lokal.
Film “Dayak” tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana edukasi sejarah dan identitas budaya Nusantara. (bro2)

