OPINI
Beranda / TOPIK / OPINI / Merawat Benteng Hijau Teluk Balikpapan (Bagian 3)

Merawat Benteng Hijau Teluk Balikpapan (Bagian 3)

Oleh: Andi Amirul Tarninda BP

(Pemerhati Pembangunan Berkelanjutan)

“Sebagai mitra strategis IKN yang mengusung konsep forest city, Balikpapan tidak boleh mengambil arah paradoks dengan berubah menjadi kota beton.”

Sebagai refleksi, apakah ratusan ribu bibit dalam seremoni lingkungan selama ini sudah cukup mengembalikan keseimbangan alam? Kenyataannya belum. Restorasi masih kalah cepat dengan laju kerusakan. Banyak aksi penanaman terjebak rutinitas formalitas (tanam, pidato dan dokumentasi foto untuk laporan corporate governance) lalu ditinggalkan begitu saja.

Tanpa pengelolaan terintegrasi, bibit muda yang rentan ini mati tersapu arus atau tertumpuk sampah plastik. Hilangnya ekosistem mangrove tua padat karbon tidak bisa tergantikan dalam sekejap hanya dengan barisan bibit baru.

Merawat Benteng Hijau (Teluk) Balikpapan (Bagian 2)

Guna memitigasi kehancuran ruang hidup, efektivitas penanaman mangrove harus terus diakselerasi sebagai penyeimbang. Sejak titik kesadaran awal tumbuh pada 2015, gerakan ini mengalami pasang surut akibat pandemi dan ekspansi KIK. Hingga melejit mencapai puncaknya pada 2025 dengan menanam lebih dari 30.000 pohon/tahun.

Tren mampu berbalik arah pasca-pandemi berkat pemulihan ekonomi dan menguatnya isu Net Zero Emission. Lonjakan ini memberikan optimisme kota sekaligus menjadi bukti nyata sinergi multi-pihak yang sadar akan pentingnya menjaga keseimbangan ekologi urban.

Mitigasi sederhana ini tidak sekadar menanam, tetapi berkomitmen menjaga semangat restorasi, memastikan tingkat keberhasilan tumbuh yang tinggi, serta menjaga keseimbangan ekologi urban nelalui konsep pembangunan berkelanjutan, membangun tanpa melupakan lingkungan.

Menyelaraskan Pertumbuhan dan Keadilan Ekologis

Dalam mengatasi dilema di Teluk Balikpapan, kota harus mengadopsi prinsip ESG secara ketat, berani dan transparan dalam setiap derap kebijakan pembangunan kawasan industri. Agar pertumbuhan ekonomi tidak lagi mengorbankan daya dukung alam. Ketidak-seimbangan pembangunan akan berdampak langsung pada penurunan kualitas ekosistem pesisir. Bahkan mengancam habitat mamalia langka seperti pesut dan bekantan di hulu mangrove.

Kerusakan pesisir dapat memicu rantai kerugian mulai dari merosotnya populasi ikan, kepiting bakau, hingga memukul ekonomi nelayan lokal yang terpaksa melaut lebih jauh ke laut lepas dengan konsekuensi biaya operasional lebih tinggi.

SIMPATI IBU, Layanan Terpadu RSIA Sayang Ibu Balikpapan

Pada aspek Environment & Governance, pemerintah dan pengelola kawasan industri wajib menjadikan instrumen Kajian Dampak Kumulatif (KDK) sebagai alat penilai utama yang tegas. Bukan menguji dokumen lingkungan secara parsial.

KDK berfungsi menguji batas ambang Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup secara kolektif. Kalau akumulasi emisi, limbah dan beban logistik industri pesisir telah melebihi kapasitas wilayah, maka ekspansi industri harus benar-benar direm.
Disamping, kepatuhan menjaga buffer zone pantai dan koridor hijau satwa minimal 100 meter dari garis pasang tertinggi wajib menjadi syarat tata ruang mutlak yang tidak bisa dinegosiasikan.

Reformasi sistem restorasi secara radikal kemudian dituntaskan melalui aspek Social dengan mewajibkan korporasi menerapkan sistem Asuh Mangrove, bukan sekadar menanam.

Tolok ukur keberhasilan dihitung dari jumlah pohon yang berhasil hidup hingga usia mandiri (minimal tiga tahun) lewat program community-based mangrove restoration yang memberdayakan nelayan lokal sebagai mitra perawat bakau.

Kalaupun terpaksa membuka lahan mangrove untuk fasilitas publik yang vital, korporasi wajib membayar utang ekologis dengan mendanai restorasi mandiri di lahan kritis lain berskala 1 banding 3, lengkap dengan perawatan berkala dan metode pelindung ombak struktural sesuai rekomendasi AMDAL

Merawat Benteng Hijau (Teluk) Balikpapan (Bagian 1)

Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Refleksi

Momentum Hari Mangrove Sedunia setiap 26 Juli harus menjadi ruang perenungan bersama. Bukan sekadar seremoni rutin atau pemenuhan rapor hijau perusahaan. Kehilangan satu hektar mangrove di wilayah industri bukan hanya hilangnya pohon, melainkan awal tenggelamnya permukiman pesisir di masa depan.

Sebagai mitra strategis IKN yang mengusung konsep forest city, Balikpapan tidak boleh mengambil arah paradoks dengan berubah menjadi kota beton. Melalui kerja sama pentahelix yang solid, lonjakan penanaman yang telah dicapai harus dibarengi dengan penegakan hukum tata ruang dan KLHS tanpa kompromi.

Hanya dengan komitmen kolektif, target Net Zero Emission dapat tercapai, sekaligus memastikan Teluk Balikpapan dapat bertahan sebagai rumah yang aman bagi keanekaragaman hayati dan ruang ekonomi nelayan tradisional.

Kesadaran bersama harus selalu menjadi landasan dasar roda kehidupan. Ruang edukasi generasi penerus yang diharapkan mampu mengetuk ruang kerja Wali Kota serta meja rapat direksi korporasi memperkuat fondasi utama kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan.

Menjaga benteng hijau Teluk Balikpapan menjadi warisan terbaik agar anak cucu kelak masih bisa melihat lambaian ekor pesut dan lompatan bekantan di atas air teluk yang jernih. Di tengah megahnya peradaban kota modern.

Kita harus menyelaraskan pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial dan kelestarian alam demi meneruskan estafet kehidupan ini dengan penuh harmoni. Mari bersama-sama selamatkan pesisir Balikpapan sebelum alih fungsi lahan, semen dan beton menutup ruang hidup kota. Selamat Hari Mangrove Sedunia “Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang”. (habis)

 

*Disclaimer:

“Pandangan dalam opini ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan resmi dari BerandaPost.com. Kami menyediakan ruang bagi berbagai perspektif untuk berdiskusi dan berbagi pandangan dalam berbagai topik. Penulis bertanggung jawab penuh atas isi tulisannya.”