BALIKPAPAN
Beranda / DAERAH / BALIKPAPAN / Balikpapan Bidik Sampah Jadi Energi, Kurangi Ketergantungan TPA

Balikpapan Bidik Sampah Jadi Energi, Kurangi Ketergantungan TPA

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana. (Berandapost.com)

BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Tumpukan sampah tak lagi sekadar masalah. Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan bahkan mulai melihat sampah sebagai sumber energi masa depan.

Pemkot Balikpapan optimistis teknologi pengolahan sampah menjadi energi mampu menekan ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) konvensional.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, menyebut Balikpapan termasuk kota yang memungkinkan untuk pengolahan sampah menjadi energi listrik.

“Ini sudah menjadi pembahasan dalam rapat terbatas dan ditindaklanjuti melalui kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Balikpapan masuk dalam 33 kota yang berpeluang mengikuti program nasional tersebut. Namun pengembangan kawasan tidak berdiri sendiri.

Pertamina Patra Niaga Kilang Balikpapan Kenalkan Kampus Energi ke Siswa

Proyek akan mencakup Balikpapan Raya dan Samarinda Raya, melibatkan wilayah penyangga seperti Kutai Kartanegara hingga kawasan sekitar IKN.

“Wilayah seperti Samboja dan Muara Jawa juga masuk dalam konsep aglomerasi pengelolaan sampah terintegrasi,” sebutnya.

Sudirman menjelaskan, syarat volume sampah kini lebih fleksibel. Jika sebelumnya minimal 1.000 ton per hari, kini cukup 500 ton.

“Produksi sampah Balikpapan sekitar 550 ton per hari, sehingga dengan aturan baru ini sudah memenuhi syarat,” katanya.

Pertimbangkan Metode Landfill Mining

Sedangkan untuk pasokan bahan, Pemkot Balikpapan mempertimbangkan metode landfill mining. Memanfaatkan sampah yang sudah tertimbun cukup lama.

Ego Sektoral Antar-OPD Balikpapan, Rahmad Mas’ud: Hapuskan!

“Tidak hanya mengandalkan sampah harian, tetapi juga sampah lama yang tertimbun,” jelasnya.

Jika proyek berjalan, dampaknya cukup besar. Volume sampah akan berkurang drastis dan bisa menekan kebutuhan lahan TPA.

“Teknologi itu untuk mengolah sampah menjadi energi dan volumenya berkurang drastis, sehingga bisa meminimalisir ketergantungan pada TPA,” terangnya.

Proses ini juga menghasilkan residu berupa abu yang masih bisa termanfaatkan, misalnya menjadi material penimbunan.

Ke depan, pemerintah berharap tak perlu lagi membuka TPA baru. Pengelolaan sampah bisa berlangsung lebih efisien dalam satu sistem. Namun, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pemerintah. Peran masyarakat tetap menjadi kunci.

Jelang Aksi 21 April, Rahmad Mas’ud: Sebaiknya Sertakan Solusi

“Sampah adalah tanggung jawab bersama. Partisipasi masyarakat menjadi kunci utama,” tegasnya.

Saat ini, proyek masih dalam tahap kajian dan kerja sama. Pemerintah berharap pembangunan bisa mulai dalam waktu dekat.

“Kalau prosesnya cepat, mudah-mudahan tahun depan sudah mulai pembangunan,” pungkasnya. (bro2)