BERANDAPOST.COM, NEW YORK – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang pasar keuangan global. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap perlambatan ekonomi Amerika Serikat.
Melansir CNBC, Senin (9/3/2026), kontrak berjangka yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average turun 848 poin atau sekitar 1,79 persen pada awal perdagangan pekan.
Tekanan juga terlihat pada indeks lain. Kontrak berjangka S&P 500 melemah 1,7 persen, sementara futures Nasdaq 100 turun 1,9 persen.
Koreksi tersebut muncul setelah pekan sebelumnya pasar saham AS mengalami penurunan tajam, salah satunya akibat melonjaknya harga energi.
Harga minyak melonjak tajam setelah eskalasi konflik Timur Tengah mengganggu pasokan energi global.
Kontrak West Texas Intermediate naik sekitar 18 persen hingga melampaui 107 dolar per barel. Ini menjadi kali pertama harga minyak AS menembus 100 dolar sejak Juli 2022.
Sementara itu, minyak mentah Brent Crude juga melonjak sekitar 16 persen hingga melampaui 108 dolar per barel.
Awal tahun ini, harga minyak AS masih berada di bawah 60 dolar per barel. Lonjakan harga terjadi setelah sejumlah produsen Timur Tengah memangkas produksi akibat terganggunya jalur utama pengiriman minyak Selat Hormuz.
Kuwait mengumumkan pemangkasan produksi, sementara laporan menyebut produksi minyak Irak turun hingga sekitar 70 persen.
Banyak analis Wall Street menilai harga minyak yang melebihi 100 dolar per barel dapat menjadi titik kritis bagi ekonomi global jika konflik berlangsung lama.
Dampak Konflik AS-Iran
Ketegangan meningkat setelah konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Presiden AS Donald Trump menyatakan kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan “harga kecil yang harus dibayar” untuk menghilangkan ancaman nuklir Iran.
Sementara itu, pasar tetap waspada terhadap perkembangan konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Pekan lalu menjadi salah satu periode terburuk bagi pasar saham AS tahun ini. Dow Jones turun sekitar 3 persen, sementara S&P 500 melemah 2 persen dan Nasdaq Composite turun 1,2 persen.
Chief Investment Officer BlackRock, Rick Rieder, menyebut pasar berada dalam kondisi sangat tidak pasti. Menurutnya, pelaku pasar mulai mengurangi posisi risiko karena sulit memprediksi durasi konflik Timur Tengah.
Selain perkembangan geopolitik, investor juga menunggu sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat pekan ini, termasuk inflasi, pasar tenaga kerja, dan pertumbuhan produk domestik bruto. (bro2)



