BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Nurhadi Saputra, menggelar sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pembangunan dan Ketahanan Keluarga. Lokasi sosper Kelurahan Baru Tengah, Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Minggu (19/4/2026).
Kegiatan tersebut menyoroti tingginya angka perceraian, sehingga memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Dalam paparannya, Nurhadi mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 tercatat sekitar 6.800 kasus perceraian di Kaltim. Sementara itu, Balikpapan menempati posisi kedua tertinggi setelah Samarinda.
“Tahun 2025 ada sekitar 1.800 kasus perceraian di Balikpapan. Artinya, ada ribuan janda dan duda baru dalam setahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, faktor ekonomi masih menjadi pemicu utama keretakan rumah tangga. Namun, dalam era digital, penyebab tersebut semakin kompleks dengan munculnya fenomena pinjaman online (pinjol) dan judi online.
“Gaji UMR sebenarnya cukup untuk kebutuhan pokok. Tapi gaya hidup dan lingkungan memicu konflik, hingga berujung kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut, Anggota DPRD Kota Balikpapan, Arisanda, turut hadir sebagai narasumber. Ia menekankan pentingnya membangun ketahanan keluarga mulai dari aspek mental spiritual dan kesehatan.
“Kalau mental dan spiritual rapuh, saat ada masalah keluarga bisa hancur atau mengambil jalan pintas,” ujarnya.
Arisanda juga mendorong masyarakat memanfaatkan program pemerintah, seperti layanan kesehatan gratis dan pemberdayaan ekonomi melalui UMKM. Ia menilai kemandirian ekonomi keluarga menjadi faktor penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
“Ibu-ibu bisa membantu ekonomi keluarga melalui usaha kecil, jangan hanya bergantung pada satu sumber penghasilan,” katanya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya pendidikan anak sebagai bagian dari ketahanan keluarga. Menurutnya, anak yang tidak mendapatkan pendidikan berisiko terjerumus pada perilaku negatif yang dapat memicu konflik dalam keluarga.
“Pendidikan adalah investasi utama. Kalau anak tidak sekolah dan terlibat masalah, itu bisa memicu konflik rumah tangga,” pungkasnya. (bro2)

