BERANDAPOST.COM, BANJARMASIN – Anggota Komisi XIII DPR RI, Ahmad Basarah menaruh perhatian serius terhadap persoalan kelebihan kapasitas penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dalam sistem pemasyarakatan Indonesia. Kondisi yang berlangsung selama bertahun-tahun itu memerlukan terobosan nyata agar pembinaan warga binaan tetap berjalan optimal.
Dalam kunjungan ke Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Ahmad Basarah menyoroti dua persoalan utama yang masih membayangi banyak Lapas.
“Yakni overcapacity dan keterbatasan sumber daya manusia,” katanya, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, kedua masalah tersebut telah berlangsung lama tanpa solusi yang benar-benar mampu memberikan dampak signifikan.
“Bertahun-tahun lamanya persoalan overcapacity ini belum menemukan jalan keluar yang efektif,” ujarnya.
Ahmad Basarah menilai sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan dalam bidang pemasyarakatan berfokus mencari solusi. “Bukan sekadar membahas berbagai hambatan yang ada,” tegasnya.
Karena itu, Komisi XIII DPR RI mendorong lahirnya berbagai inovasi yang mampu meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan sekaligus menjawab keterbatasan yang selama ini terjadi.
“Ketimbang mengeluhkan belum ada jalan keluar yang efektif dari overcapacity, kemudian ketersediaan SDM dan lain sebagainya,” imbuh Ahmad Basarah.
Salah satu terobosan yang mendapat perhatian adalah penyelenggaraan pendidikan formal bagi warga binaan. Program tersebut memberikan kesempatan kepada penghuni lapas untuk melanjutkan pendidikan. Mulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi melalui kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan.
“Nah, menurut hemat saya, terobosan semacam ini harus menjadi role model bagi lapas-lapas lain seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Ia juga menilai pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, meningkatkan keterampilan, serta mempersiapkan warga binaan agar lebih siap kembali ke masyarakat setelah menjalani masa pidana.
Hasil temuan selama kunjungan kerja tersebut, lanjutnya, akan menjadi bahan rekomendasi kepada Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan agar model pembinaan yang berjalan mendapatkan replikasi oleh berbagai lapas lainnya. (bro2)

