BERANDAPOST.COM, JAKARTA – Ketegangan geopolitik Timur Tengah mulai memecah sikap negara Eropa. Perbedaan terlihat dalam merespons krisis Selat Hormuz yang kini terdampak konflik.
Menteri Luar Negeri Bulgaria, Nadezhda Neynsky menegaskan negaranya tidak akan terlibat dalam operasi militer untuk memulihkan jalur pelayaran tersebut. Sikap itu ia sampaikan dalam forum virtual yang dipandu Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper pada Kamis (2/4/2026) waktu setempat.
Sedangkan, Belanda mengambil posisi berbeda. Menteri Luar Negeri Belanda Tom Berendsen menyatakan kesiapan negaranya berkontribusi secara militer.
“Keamanan navigasi kawasan Selat Hormuz sangat penting. Kami siap memainkan peran,” ujarnya.
Ukraina Tawarkan Bantuan
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky turut menawarkan dukungan untuk membuka jalur pelayaran tersebut. Ia menyebut Ukraina memiliki pengalaman menghadapi blokade laut saat konflik dengan Rusia.
“Kami siap membantu dalam hal pertahanan,” ujarnya.
Meski begitu, Zelensky tidak merinci bentuk kontribusi yang akan ia berikan. Sedangkan negaranya hingga saat ini masih berperang dengan Rusia.
Konflik Picu Blokade Energi
Ketegangan bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran ke sejumlah target, termasuk fasilitas militer kawasan Teluk.
Situasi ini kemudian berujung pada blokade de facto terhadap Selat Hormuz.
Jalur ini merupakan urat nadi energi global. Sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia melintas setiap hari.
Akibatnya, harga energi melonjak dan distribusi terganggu.
Dampak Global Kian Terasa
Penutupan jalur ini tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah. Ekonomi global juga ikut terguncang akibat lonjakan harga minyak dan gangguan pasokan.
Negara-negara kini menghadapi dilema antara menjaga stabilitas energi atau terlibat lebih jauh dalam konflik. Perbedaan sikap negara-negara Eropa menunjukkan belum adanya konsensus global dalam menangani krisis ini. (bro2)


