BERANDAPOST.COM, PENAJAM – Ramadan dan Idulfitri selalu membawa perubahan ritme kehidupan. Aktivitas ibadah meningkat, dapur lebih sering menyala, dan rumah terasa lebih sibuk dari hari biasa. Perubahan itu ikut mendorong lonjakan konsumsi air bersih masyarakat Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Masyarakat tak hanya memakai air untuk kebutuhan dasar. Warga menggunakannya untuk bersuci, memasak hidangan sahur dan berbuka, hingga menjaga kebersihan rumah selama momen Lebaran.
Direktur Perusahaan Umum Daerah Air Minum Danum Taka (AMDT) PPU, Abdul Rasyid, menyebut peningkatan pemakaian air terjadi setiap tahun saat Ramadan.
“Pemakaian air selama Ramadan pasti meningkat. Kebutuhan ibadah bertambah, sementara aktivitas rumah tangga tetap tinggi,” ujarnya, Senin (23/3/2026).
Secara rata-rata, setiap keluarga menambah konsumsi sekitar 5 meter kubik per bulan. Dari semula 10 meter kubik, angka kini mencapai 15 meter kubik.
Meski permintaan naik cukup tajam, Perumda AMDT memastikan pasokan tetap aman.
“Penambahannya cukup besar, tapi masih bisa kami suplai. Kondisi air baku juga masih baik karena curah hujan cukup tinggi,” jelas Rasyid.
Kondisi tersebut memberi ketenangan bagi masyarakat yang menjalani ibadah tanpa kekhawatiran kekurangan air bersih.
Siapkan Antisipasi Kemarau
Dari balik kondisi yang masih aman, tantangan lain mulai terlihat. Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan Kalimantan Timur berpotensi memasuki musim kemarau panjang pada April hingga Agustus 2026.
Menghadapi situasi itu, berbagai langkah antisipasi mulai disiapkan. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) memperdalam embung penampung air. Sementara Balai Wilayah Sungai fokus menjaga sumber air baku.
Pada sisi lain, Perumda AMDT mengoptimalkan pasokan dari intake Sepaku yang baru beroperasi.
Upaya memperluas layanan juga mendapat dukungan dari Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN). Salah satunya mempersiapkan bantuan berupa 6.000 sambungan rumah untuk warga, khususnya wilayah Sepaku.
Langkah tersebut agar memudahkan masyarakat memperoleh akses air bersih tanpa terbebani biaya pemasangan.
“Sebagian warga sudah merasakan manfaatnya. Namun masih ada kapasitas yang belum terpakai karena keterbatasan anggaran,” kata Rasyid.
Saat ini, tim gabungan masih melakukan pendataan untuk menentukan penerima manfaat secara tepat sasaran. (bro3)



