PPU
Beranda / DAERAH / PPU / Tiga Gender Champion dari PPU Bersinar di Parade Gender Kaltim 2026

Tiga Gender Champion dari PPU Bersinar di Parade Gender Kaltim 2026

Grace Makisurat
Kepala DP3AP2KB PPU, Jansje Grace Makisurat menjelaskan tiga tokoh PPU yang meraih Gender Champion di Parade Gender Kaltim 2026. (Istimewa)

BERANDAPOST.COM, PENAJAM – Dari panggung Parade Gender Kaltim 2026, cerita tentang perjuangan kesetaraan kembali menguat. Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat capaian menonjol dengan tiga tokoh yang meraih penghargaan Gender Champion beberapa waktu lalu.

Parade Gender Kaltim 2026 yang merupakan rangkaian peringatan Hari Kartini ke-147 itu, menjadi ruang apresiasi bagi individu yang konsisten mendorong pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender.

Kepala DP3AP2KB PPU, Jansje Grace Makisurat, menyebut keberhasilan tersebut bukan hasil instan. Proses seleksi berlangsung sejak tahun sebelumnya dengan tahapan yang ketat.

“Sebenarnya yang meraih penghargaan ini itu penilaiannya ada pada tahun lalu. Jadi yang kita kirim ada empat atau lima, dan yang lolos ada tiga. Termasuk ada kader posyandu yang ikut, namun tidak lolos,” kata Grace, Rabu (6/5/2026).

Dari sepuluh kabupaten dan kota se-Kaltim, PPU menjadi daerah dengan capaian paling menonjol. “Kita memboyong tiga orang yang mendapat penghargaan,” katanya.

DPMD PPU Pacu Desa Berprestasi di Lomba TTG 2026

Tiga sosok tersebut ialah Yuni Nurhayati, Wartono Mustafa, dan Yani. Masing-masing membawa gagasan dan aksi nyata dari bidang berbeda, namun bertemu pada tujuan yang sama: memperkuat peran perempuan.

Dukungan pemerintah daerah tidak berhenti pada tahap pengiriman peserta. Penguatan materi menjadi bagian penting agar pesan yang disampaikan memiliki dampak lebih luas.

“Kita memang mendukung penuh para peraih penghargaan ini dengan perbaikan isi konten videonya,” jelas Jansje.

Tiga Gender Champion

Dalam salah satu karya, Wartono Mustafa mengangkat pelestarian lingkungan melalui pendekatan pariwisata. Ia ingin memperlihatkan keseimbangan antara ekonomi dan keberlanjutan.

“Misalnya Pak Wartono Mustafa itu, kalau saya lihat videonya menampilkan wisatawan mancanegara yang datang ke wisata susur sungai. Pak Wartono kuat unsur pariwisatanya, sisi lain, ia kan pelestarian alam sebenarnya,” ungkapnya.

DPKP PPU Evaluasi Pos Damkar, Kejar Respons 15 Menit

Sementara itu, Yuni Nurhayati menghadirkan model pemberdayaan berbasis komunitas melalui Batik Sekar Buen. Kelompok perempuan yang terlibat menjadi bukti bahwa ekonomi kreatif mampu membuka ruang kemandirian.

“Seperti Bu Yuni Nurhayati dari Batik Sekar Buen yang menggandeng kelompok-kelompok perempuan, sehingga unsur pemberdayaannya kuat sekali,” lanjutnya.

Sedangkan untuk sektor pendidikan, Yani memberi kontribusi melalui pengajaran untuk siswa sekolah swasta. Perannya menunjukkan bahwa kesetaraan juga tumbuh dari ruang-ruang belajar.

“Bu Yani mengajar anak-anak. Apalagi kayaknya sekolah tempat ia mengajar itu kan sekolah swasta,” jelasnya.

Dari ketiga nama tersebut, masih banyak potensi yang belum terangkat. Jansje menilai banyak perempuan PPU memiliki inovasi, namun belum mendapat panggung yang memadai.

Disdukcapil PPU Jemput Bola Data NIK Warga Binaan Rutan

“Sebenarnya banyak tokoh-tokoh masyarakat kita, utamanya perempuan, yang lihai berinovasi,” pungkasnya. (bro1)