BERANDAPOST.COM, KOTABARU – Pesisir Desa Tanjung Seloka menyimpan kisah perubahan. Laut yang dulu penuh ketidakpastian kini memberi harapan baru bagi nelayan.
Dulu, nelayan hanya mengandalkan tangkapan kepiting bakau. Ukuran kecil dan harga rendah membuat penghasilan sulit meningkat.
Kini, pola itu mulai bergeser. Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur mendorong perubahan menuju budidaya berkelanjutan.
Transformasi dimulai sejak 2024 lewat Program Desa Berdaya. Warga diperkenalkan teknologi pemanfaatan FABA untuk membentuk terumbu buatan dan rumah ikan.
Langkah ini juga untuk menjaga ekosistem sekaligus memperkuat sumber daya perikanan.
Tahun berikutnya, fokus beralih ke penguatan ekonomi. Nelayan selanjutnya mulai mengembangkan budidaya kepiting soka dan penggemukan kepiting. Metode yang nelayan gunakan adalah Recirculating Aquaculture System (RAS).
Pendekatan ini bahkan memberi nilai tambah dan hasil lebih stabil.
Pendapatan Lebih Pasti
Ketua kelompok nelayan Seloka Crabs, Irhamsyah, merasakan perubahan nyata. Ia bahkan mengakui dahulu harga jual kepiting lebih rendah.
“Sekarang setelah dibudidayakan, nilainya jauh lebih tinggi,” ujarnya, Sabtu (4/4/2024).
Produksi mencapai sekitar 90 kilogram sepanjang 2025. Saat ini, hasil stabil pada kisaran 30 kilogram per bulan.
Program tidak hanya meningkatkan produksi. Peluang kerja juga terbuka, kelembagaan kelompok menguat, dan minat warga lain ikut tumbuh.
Budidaya kepiting soka bahkan mulai menjadi sumber penghasilan baru yang menjanjikan.
Sementara itu, General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, menyebut program ini sebagai bentuk pemberdayaan nyata.
“PLN tidak hanya menyediakan listrik, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Ekonomi Tumbuh, Lingkungan Terjaga
Metode RAS memungkinkan budidaya lebih efisien tanpa menekan populasi alami. Ekosistem laut tetap terjaga.
Pada 2026, program berlanjut dengan pelatihan lingkungan, penanaman pohon, serta dukungan alat produksi bagi UMKM. Langkah ini agar memperkuat fondasi ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan alam.
Tanjung Seloka kini menjadi contoh perubahan berbasis potensi lokal. Dari sekadar menangkap, masyarakat beralih ke usaha yang lebih terencana dan berkelanjutan.
Laut yang dulu penuh ketidakpastian kini menghadirkan peluang baru bagi masa depan nelayan. (bro2)


