BERANDAPOST.COM, SOLO – Aneka corak Batik Walang Kekek dipamerkan Ester Wulandari, menantu diva keroncong lintas generasi Hj Waldjinah.
Ester bersama Hj Waldjinah memiliki kecintaan yang sama terhadap batik. Mereka berupaya merawat dan melestarikan warisan budaya Indonesia ini dengan dukungan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Solo.
“Ibu Waldjinah ada dalam ruangannya. Sudah sepuh,” kata Ester Wulandari saat media ini meneminya pada Butik Batik Walang Kekek, Jalan Parang Canthel Nomor 31, Purwosari, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Senin (8/9/2025).
Kunjungan ini menjadi bagian dari kegiatan Capacity Building awak media untuk wilayah kerja KPw BI Kota Balikpapan.
Ester menjelaskan, Butik Batik Walang Kekek adalah wujud dedikasi keluarga besar Waldjinah dalam menjaga eksistensi batik setelah lebih dari 70 tahun berkarya dalam dunia tarik suara.
AWAL MULA MELESTARIKAN BATIK
Waldjinah mantap mengabdikan diri untuk melestarikan seni batik setelah mendapat dorongan dari Presiden Joko Widodo. Pada 2016, butik ini mulai beroperasi dan pengelolanya adalah menantu Waldjinah, yakni Ester Wulandari.
“Waktu itu, ibu pulang setelah mendapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo. Ibu bilang mendapat amanah dari Presiden. Apa lagi yang bisa ibu lakukan untuk bangsa ini,” tutur Ester.
Nama Waldjinah harum sejak era Presiden Soekarno melalui tembang-tembang keroncong dan menjadi saksi sejarah panjang Indonesia hingga masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Ester, ketertarikan Waldjinah terhadap batik sudah ada sejak lama. Bahkan, kakaknya juga seorang seniman batik.
Ester kemudian menunjukkan warisan keluarga berupa sekitar seribu motif batik yang tergambar pada kertas singkong. Coraknya unik, mulai manusia purba, hewan purba Jurassic Park, roket antariksa Apollo, hingga tokoh Flash Gordon. Ini menjadi bukti akulturasi budaya lintas benua.
“Ini foto Ibu Waldjinah tahun 1975 saat membatik. Ini warisan kertas-kertas langka yang beliau miliki, hampir seribu lembar. Ada pengaruh Amerika, Jepang, Cina, Belanda, hingga mitologi Yunani. Bayangkan, pada 70-an Indonesia belum banyak yang punya televisi, tapi corak ini sudah Ibu Waldjinah,” ujar Ester sambil memperlihatkan hasil karya sang legenda.
MELANJUTKAN SEMANGAT MEMBATIK
Kini, Ester Wulandari melanjutkan semangat membatik. Karya batiknya sudah ratusan, mencakup motif Parang, Kawung, Sekar Jagad, hingga Wahyu Tumurun.
“Sekar Jagad ini menggambarkan berbagai motif bunga yang sarat filosofi,” jelasnya.
Ester juga memperlihatkan karya batik panjangnya, mulai lima hingga sepuluh meter, dengan pengerjaan yang memakan waktu dari tiga bulan hingga bertahun-tahun.
“Ini ada motif Wahyu Tumurun. Ada dua burung yang melambangkan pasangan. Bagian atasnya ada mahkota, melambangkan isi kepala atau pemikiran akal budi manusia,” paparnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar karyanya lahir dari perenungan mendalam.
“Saya juga membuat batik yang terinspirasi dari lagu-lagu Ibu Waldjinah. Saya tuangkan dalam bentuk tangga nada lengkap dengan liriknya,” ungkap Ester.
MEMBERI NILAI SENI BATIK LOKAL
Menurut Ester, batik adalah simbol daerah yang tersebar ke seluruh Indonesia. Ia mendorong agar melestarikan batik Kalimantan Timur, khususnya Kota Balikpapan.
“Batik Walang Kekek ini menjadi wadah untuk melestarikan seni batik sekaligus mendukung pembatik lokal agar berkembang,” ujarnya.
Ester juga berpesan kepada pelaku UMKM batik agar memberi energi dan filosofi pada setiap motif.
“Misalnya motif batik Dayak burung Enggang,” katanya.
Ia mencontohkan motif Sawunggaling yang merupakan akulturasi Jawa dan Bali. Motif ini berasal dari kata Sawung (ayam jago petarung yang tak terkalahkan) dan Galing (dalam bahasa Bali berarti Merak).
“Sawunggaling ini karangan Almarhum Bapak Go Tik Swan. Jadi orang yang memakai batik ini memancarkan energi filosofi ayam jago petarung yang kuat dan indah,” jelasnya.
Menurut Ester, tantangan terbesar batik saat ini adalah maraknya ekspor dan impor batik dari luar negeri.
“Industri dari negeri China bisa menghasilkan batik yang nyaris sempurna,” terangnya.
Ia menegaskan, cara menjadikan batik eksklusif adalah dengan menambahkan nilai-nilai filosofi agar menjadi simbol khas yang tak terpisahkan dari kreativitas masyarakat lokal.
“Jadi setiap karya seni batik perlu dinarasikan agar memiliki nilai filosofis,” pungkasnya. (bro3)


