BERANDAPOST.COM, BOYOLALI – Aspakusa Makmur Boyolali menjadi contoh sukses pengelolaan pasokan sayuran premium melalui klaster pangan binaan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kota Solo.
Kelompok tani ini mampu menjaga produksi dan distribusi sayuran sepanjang tahun secara berkesinambungan.
Pengelola Aspakusa Makmur Boyolali, Dwi Lestari Puji Astuti, menjelaskan Aspakusa merupakan singkatan dari Asparagus, Kucai, dan Sayuran. Kelompok ini melibatkan sekitar 200 petani Boyolali yang mendistribusikan hasil pertanian ke berbagai kota, seperti Solo, Yogyakarta, Semarang, hingga Surabaya.
“Permintaan retail supermarket itu harus kontinu, jadi kami berusaha menanam sepanjang tahun. Cabai misalnya, seharusnya selalu tersedia sesuai kebutuhan pasar,” kata Puji Astuti saat ditemui di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Teras, Boyolali, Senin (8/9/2025).
Kunjungan ke Aspakusa Makmur Boyolali menjadi bagian dari kegiatan Capacity Building yang melibatkan para awak media wilayah kerja KPw BI Kota Balikpapan. Agenda ini berlangsung selama empat hari, 7–10 September 2025.
Puji Astuti menambahkan, Aspakusa Makmur Boyolali mendapat dukungan dari KPw BI Kota Solo, termasuk bantuan mobil box pada 2020 dan cold storage pada 2024. Dukungan serupa juga datang dari Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian serta Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah.
“Kalau dulu dari 2005 sampai 2011 kami sempat mendapatkan pendampingan oleh ekspatriat Taiwan melalui Taiwan International Cooperation Development Fund (ICDF). Waktu itu hampir semua kebutuhan sarana-prasarana terpenuhi, sehingga petani tinggal fokus produksi,” ujarnya.
OMZET RATUSAN JUTA PER BULAN
Kini, Aspakusa Makmur Boyolali mandiri dan mampu meraih omzet lebih dari Rp100 juta per bulan. Beberapa petani bahkan bisa mendapatkan Rp30–40 juta per minggu dengan mengoordinasi kelompoknya.
Produk pertaninan cukup beragam, mulai asparagus, bayam merah, okra, hingga sayuran bumbu seperti rosemary, coriander, dan mint segar. Banyak hotel dan restoran meminati produk ini.
Aspakusa Makmur Boyolali juga memberdayakan remaja, mahasiswa agribisnis, dan ibu-ibu yang sudah pensiun.
“Untuk tim grading dan packing, ada sekitar 12 ibu-ibu yang bekerja harian. Total pekerja kami ada 21 orang, termasuk penjaga malam. Ada yang sudah mendekati usia 60 tahun, jadi produktivitasnya berbeda. Tapi kami tetap akomodasi sesuai kemampuan,” jelas Puji Astuti.
Selain menjaga kontrak dengan supermarket agar harga stabil, kelompok ini juga memangkas rantai distribusi supaya petani memperoleh harga lebih adil.
Menurut Puji Astuti, tantangan tetap ada, terutama saat pandemi Covid-19 dan gejolak sosial yang sempat menghambat distribusi ke Surabaya pada awal September 2025.
“Tantangan lainnya, kami juga harus bersaing dengan kelompok lain dari Magelang hingga Bandung,” ungkapnya.
Ke depan, Aspakusa Makmur akan memperluas kontrak dengan sektor ritel, mengembangkan produk baru seperti sayuran kering dan frozen, serta meningkatkan pemasaran online.
KPw BI Kota Solo juga memberikan pelatihan digital marketing agar kelompok ini mampu mengikuti tren belanja masyarakat yang kini beralih ke platform daring.
“Kuncinya kami selalu menjaga kualitas dan kontinuitas,” tegasnya. (bro3)


