BERANDAPOST.COM, TENGGARONG – Dari barisan tegap calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), ada satu tahapan yang kerap jadi penentu: Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Bukan soal fisik, bukan pula soal mental semata. Dalam tahap ini, yang menjadi ujian adalah seberapa dalam generasi muda memahami bangsanya sendiri.
Penelaah Teknis Kebijakan Subbid Pembauran dan Kewarganegaraan Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kutai Kartanegara (Kukar), Dessy Laula menjelaskan bahwa TWK menjadi filter utama dalam seleksi Paskibraka.
Sistemnya tegas, menggunakan standar nasional mengacu pada Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Siapa pun yang tak mencapai ambang batas nilai, harus berhenti.
“Tes ini bukan hanya soal pengetahuan, tapi juga membentuk karakter calon pemimpin,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Materi TWK sebenarnya tidak asing. Pancasila, sejarah bangsa, hingga pengetahuan dasar kenegaraan yang diajarkan sejak bangku SMA. Namun kenyataannya, hasil sering tak sejalan dengan harapan.
Banyak peserta dengan kondisi fisik prima justru gugur pada tahap ini. Bukan karena kurang latihan, melainkan karena pemahaman kebangsaan yang belum kuat.
Fenomena ini menjadi sinyal penting, bahwa membangun nasionalisme tidak cukup lewat simbol dan seremoni. Ia tumbuh dari pemahaman, dari kebiasaan membaca, dan dari ruang belajar yang konsisten.
Tantangan Zaman Digital
Dessy melihat ada perubahan besar dalam pola belajar generasi muda. Integrasi materi Pancasila dalam berbagai mata pelajaran membuat pemahaman tidak lagi mendalam seperti sebelumnya.
Pada sisi lain, gawai menjadi distraksi yang sulit untuk menghindarinya. Kaum muda sangat mudah mengakses informasi, tetapi tidak semua terserap dengan baik.
“Akibatnya, pengetahuan dasar kebangsaan yang seharusnya menjadi fondasi justru perlahan terkikis,” ujarnya.
Kesbangpol Kukar, lanjut Dessy, mencoba menjawab tantangan itu. Langkah tersebut melalui sosialisasi ke sekolah, diskusi santai dalam ruang publik, hingga pendekatan langsung ke kecamatan.
Namun upaya itu tidak bisa berdiri sendiri. “Kami butuh peran sekolah, keluarga, dan lingkungan,” tegas Dessy.
Membangun wawasan kebangsaan bukan tugas satu lembaga. Seharusnya adalah kerja bersama yang harus hidup dalam keseharian, bukan hanya saat seleksi.
Seleksi Ketat, Harapan Besar
Dari 328 peserta yang lolos administrasi, hanya 43 orang akan terpilih untuk Paskibraka tingkat kabupaten. Empat terbaik akan melangkah ke tingkat provinsi.
Angka itu menunjukkan satu hal: persaingan sangat ketat.
Namun lebih dari itu, seleksi ini juga menjadi cermin. Bahwa generasi muda tidak hanya harus kuat secara fisik, tetapi juga kokoh dalam pemahaman kebangsaan. (bro2)


